tentang kembali dan memaafkan

 

 

 

 

 

 

 

 

Harihari kemarin ini, mungkin adalah harihari tentang kembali..

Kembali ke sudutsudut kota yang penuh kenangan itu, kembali ke ruang cerita dan tawa temanteman lama itu, kembali ke sudutsudut syahdu desa itu, kembali ke keramahan dan riuh riang keluarga itu, kembali ke haribaan dan senyum ibu yang penuh rindu nan meneduhkan itu..

Dan memaafkan, pun adalah tentang kembali, kembali saling memutihkan hati dari prasangka, marah, dan benci terhadap individu lain..

Ah, tetapi bukankah benar-benar kembali menjadikan putih adalah terlalu romantis dan utopis? karena sejatinya, dalam tiap interaksi manusia, pasti akan selalu tetap tersisa bekas, selalu tertinggal jejak yang tak mungkin untuk dikembalikan putih, yang akan bersisa sebagai prejudices (apalagi apabila jejak dan bekas itu adalah sakit dan pahit), sehingga esensi dari kata “maaf” yang paling pesimis dalam rangka itu mungkin adalah sekedar lip services, dan yang paling optimis mungkin adalah secara tulus dan benarbenar sebuah usaha mencoba, terlepas dari hasilnya..  
 
Dan untuk kita, walaupun mungkin tanpa meminta dan tanpa terucap secara langsung, walaupun mungkin tak seromantis layaknya air kembali ke laut, panas kembali ke api, dan hijau kembali ke daun, adalah mari mencoba untuk benarbenar mengembalikannya ke bersih…
*postingan agak telat..karena baru kembali menulis setelah kembali..


About this entry