tentang pamerpameran
Sebuah pameran, adalah menyelenggarakan, mempertontonkan, dan membanggakan sesuatu ke khalayak ramai. Ia adalah memang sebuah usaha “pamer”
Kata “pamer”, yang pada dasarnya merupakan comotan dari bahasa jawa, memuat konotasi yang negatif, yaitu unsur “menyombongkan diri” yang terkandung dalamnya
Syahdan, lebih dari satu setengah abad yang lalu, seorang tua, sang empu kitab wedatama, menyeru terhadap sikap beragama pada zamannya yang konon adalah beragama dalam pamer dan bertingkah, mempertunjukkan diri dan menarik perhatian:
katungkul mungkul sami
bengkrakan mring masjid agung
(asyik masyuk beramairamai
memamerkan diri di masjid agung)
Concern dan piwulang dari sang empu wedatama tersebut ternyata pun berlaku di zaman kita ini, yang mungkin dalam bentuk dan magnitude yang berbeda. Mungkin, karena “pamer” adalah virus purba yang senantiasa menempel dan hidup dalam DNA manusia setiap masa, pun dalam beragama, dalam beribadah
Sejatinya, bukankah beribadah dan beragama seharusnya merupakan momen intim antara individu dan Tuhan-nya? bagi sang empu wedatama, orang yang benarbenar tekun beragama adalah mereka yang tuman tumanem ing sepi: terbiasa gemar “tertanam” dalam kesepian. kurang lebih, sebuah sikap mistik, sebuah interseksi syahdu antara jiwa seorang hamba dan Sang Pencipta yang seharusnya tabu dan tak hendak untuk diintip, apalagi dipamerpamerkan
Pun seharusnya dalam menyebarkan, mengajak orang untuk beribadah, seharusnya merupakan sikap intim yang takperlu untuk dipamerpamerkan, dikoarkoarkan, sebuah sikap yang seharusnya mengajak tanpa memaksakan, tulus tanpa mengganggu
Dan maka, ketika itu diwujudkan dalam sebuah pameran, syair suci itu taklagi akan terdengar syahdu. Mungkin terdengar megah, meriah dan menghentak, namun terasa begitu hampa dan hambar, bagaikan mantramantra kosong yang meghambur dalam kabur
* memerah dalam bangun yang suri


4 Komentar
Langsung ke formulir komentar | comment rss [?] | trackback uri [?]