tentang anak

Apa yang membedakan tinta merah atau hitam yang harus ditorehkan pada selembar kertas nasib anak yang putih?

Sering, kita melihat wajahwajah ceria dan rekah tawa, namun lebih banyak lagi kita lihat  wajahwajah lusuh menyimpan duka dan perihnya dunia di sudut yang lain

Beberapa dapat beristrahat dengan lelap untuk bersiap menyambut dunia penuh warna, sedangkan sebagian lagi bermandikan peluh dan hujan demi menyambung senti demi senti dari hidupnya. Dan bagi mereka Tagore, pertanyaan yang penting adalah bukan “siapa yang telah mencuri lelap dari pelupuk mata kami”, tapi “siapa yang telah mencuri nasi dari perut kami?”

Tentunya, di luar kemampuan mereka untuk lahir dalam keluarga berpunya atau keluarga papa

Tentunya, bukan keinginan mereka untuk lahir dalam lingkungan keluarga yang tak berpunya, dan dalam kesedihan yang tak terperi hidup dalam kasih sayang yang terenggut. Dan bagi mereka, takmengherankan bila di depan, masa depan suram telah menanti. Sebagian dari mereka, mungkin akan menjadi penjahat atau tunawisma yang menggelandang dari sudut kota ke sudut yang lain, yang seringkali terlepas dari sadar atau tidak, kita lihat dengan mata terpicing dan nyinyir. tak mengherankan, bila kelak mereka tumbuh sebagai “sampah masyarakat”

Sedangkan, di sudut yang lain kita melihat wajahwajah yang berceloteh dengan riang dalam dekapan kasih sayang yang cukup, dalam limpahan kesempatan untuk merengkuh dunia. Tak mengherankan jika kelak mereka akan menjadi orangorang yang berada, orangorang yang hebat. Yang mungkin menjadi mengherankan, adalah jika kemudian mereka menjadi sampah masyarakat

Lalu, pertanyaannya adalah adakah kesialan bagi anak yang terlahir dalam serba kekurangan, dan keberuntungankah bagi mereka yang lahir di tengah keserbbakecukupan?lalu, apa yang telah mereka perbuat sehingga lahir di tengah kondisi tersebut?

Masa depan mereka seakan telah digariskan, dan seakan bukan oleh tangantangan mungil mereka sendiri

Paradoks disini adalah, dari sekian juta sperma, anakanak ini adalah anak yang terpilih untuk layak hidup. Tetapi, dari mereka yang hidup, berapa yang kemungkinan bisa merasakan layaknya kehidupan? Termasuk beruntungkah kita?Lalu, akan terus memicing dan nyinyir kah kita? atau, sekedar diam dalam ruang kita yang nyaman?


About this entry